Selasa, 02 November 2010

Para Pejabat Istana


Di istana kepresidenan yang teduh, hati Manikmaya berbinar-binar senang. Dua kali dia mampu mempertahankan kursi presiden. Di zaman demokrasi yang aturannya pura-pura ketat ini, dirinya sadar benar tak mungkin menjadi presiden sepanjang masa. Dia sudah belajar dari ambruknya dua presiden terdahulu, lantaran terlalu lama memerintah.

Seperti yang direncanakan protokoler rumah tangga istana, tepat pukul 8 pagi, Manikmaya bakal makan bersama dengan empat orang penting yang sukses mengantarnya memenangi Pemilu.

Soal tampil oke di depan kawan ataupun lawan, Manikmaya jagonya. Latihan pidato di depan cermin, menata mimik, mengatur intonasi suara, semuanya dia pelajari. Ini bukan masalah kepantasan tapi bagaimana citra dibentuk, agar tampak wibawa, mengagumkan, juga tampan, terutama bagi ibu-ibu muda istri para pejabat, pejabat wanita, kalau perlu penari istana bisa kepincut dengannya.

Agenda pagi ini, di hari pertama masa jabatannya yang kedua, dia ingin berbincang-bincang dengan para donator, sekadar berterimakasih dan memberi imbal balik, entah itu tender atau kemudahan-kemudahan lainnya. Manikmaya juga harus menemui dua kakaknya, Catugora dan Ismaya, yang pernah menjadi dua tokoh nasional sekaligus kandidat kuat presiden di masa lampau.

Langkah Manikmaya dibuat semantap mungkin menyusuri koridor istana. Setidaknya, para pengawal istana akan tergetar mendengarnya. Dan pastinya tamu-tamu terpesona tepat ketiku pintu terbuka lebar, diiringi senyumnya yang bijak juga ramah.

Acara jamuan pagi masih sejam lagi. Manikmaya perlu ngobrol sebentar dengan kolega dekat, yang membantunya memenangi Pemilu. Setidaknya, dia bisa minum teh dan makan kudapan kecil, agar nantinya dalam jamuan resmi dia tak tampak rakus alias makan dengan kalap, yang pasti merusak wibawanya. Dengan perut setengah kenyang, Manikmaya ingin menjaga wibawa.

------

Di depan meja yang tak sepenuhnya bulat itu, ada Catugora yang biasa dipanggil Togog, kakak Manikmaya. Kalau sekarang Manikmaya menjadi presiden yang mampu mengatur negara sekehendak hatinya, itu karena peranan Togog. Yang juga tak bisa diabaikan seperti Kresna, Sangkuni, Ismaya.

Manikmaya, yang duduk di ujung meja, seperti kepala keluarga yang menghadapi makan malam keluarga. Semua saling tatap dan tersenyum.

“Terimakasih Ismaya, Catugora, berkat dukungan kalian, Aku terpilih lagi.”

“Sudahlah kita bertiga adalah saudara, apapun yang terjadi,” kata Catugora, Ismaya tersenyum.

“Anda perwakilan Astina, pengganti Pandu?” Mata Manikmaya memandang Sangkuni.

“Benar, Pak presiden. Saya Sangkuni. Sepeninggal Pandu, semua urusan Astina, Saya tangani bersama Destrata, kakak Pandu,” kata Sangkuni ramah.

“Apakah Viyasa mengubah aturan, bahwa pemegang kekuasaan Astina bisa orang, yang maaf, cacat fisik?”

“Pak Presiden, tak ada yang mengubah aturan itu. Untuk itu saya dan Destarastra memegang perwalian anak-anak Pandu, hingga mereka dinilai layak mengendalikan Astina.” Sangkuni bertutur runut dan lancar.

“Aku berteman baik dengan Pandu, dialah donator besar setiap kampanyeku, hingga dia meninggal mendadak di dalam kendaraanku, lalu apa yang kau pinta Sangkuni untuk Astina?”

“Saya pebisnis mungkin juga seorang yang selalu berjudi dengan nasib untuk mendapat keuntungan yang besar. Tapi ada masa saya menginginkan semuanya mudah. Anggap saja Pandu berinvestasi untuk anak-anaknya dan seluruh keturunan Viyasa.” Mata Sangkuni mengkilap-kilap, ada keserakahan yang membara di dalam sorot matanya.

“Kamu ingin kemudahan untuk semua bisnismu?”

“Betul Pak Presiden.”

Hmmm, Pandu memang sobatku tapi Anda bagiku, tetaplah orang asing.”

Mendengar kata-kata Manikmaya, Sangkuni mulai gelisah.

“Pandu pemodal tunggal saat pertama kali aku menjadi presiden. Untuk pemilihan kedua, Astina hanya menyokong separuh dari dana pemenangan Pemilu. Maka aku harus berbuat adil. Ada beberapa pengusaha yang menanggung setengah kampanye. Aku hanya bisa memberi kemudahan, asal bisnismu memang benar-benar bagus.”

“Kalau itu kehendak Pak Presiden, itu sudah lebih dari cukup.”

Beberapa pegawai istana kepresidenan memasuki ruangan. Mereka meletakkan semua hidangan dengan sangat terlatih. Sopan juga cekatan. Tak sampai semenit semua hidangan sudah tertata. “Silahkan Pak Presiden,” kata salah seorang dari mereka. Di atas meja tersedia hidangan laut yang serba rebus, juga sayuran segar. Usia para tamu yang datang membuat Manikmaya memesan masakan serba rebus. Mereka mulai mengudap satu persatu makanan sembari melanjutkan perbincangan.

“Tapi berhati-hatilah Sangkuni, Astina tak bisa memonopoli semua bisnis. Bila itu terjadi ekonomi tak bergerak, bukan itu saja kekayaan kalian memiliki potensi besar menyaingi kekuasaan pemerintah. Aku tahu Astina membayar polisi, membayar Departemen Tenaga Kerja untuk menyelesaikan masalah pemogokan buruh garmen di kawasan industri kota J, dan pengadilan memenangkan kalian, mengabaikan tuntutan buruh yang kalian gaji tak layak itu. Sepeninggal Pandu, kalian menjalankan bisnis dengan mengabaikan hak-hak buruh!” Suara Manikmaya Meninggi.

“Yang Pak Presiden dengar, sebenarnya tidak seperti itu.”

“Kamu mau bukti? Ada Kresna di sampingmu. Kamu tahu bukan, dia kepala kepolisian negara ini dan dia sudah menerima aduan dari bagian pendisiplinan internal kepolisian, bahwa polisi yang memadamkan protes buruh dengan kekerasan, teryata kalian yng membayar.”

Sangkuni mulai merasakan tempat duduknya panas, dan hidangan yang dia santap serasa getir. “Kalau Anda melakukan hal yang tak benar dengan buruh, lalu pengadilan, departemen tenaga kerja, juga kepolisian membela perusahaan Anda, maka hancurlah nama pemerintah, juga Aku!”

“Pak Presiden atas nama Astina saya minta maaf. Tapi Pak Presiden perlu mengetahui bisnis kami kokoh di negeri ini. Bahkan menggurita di lima benua. Kalau kami mempertahankan melakukan produksi di negeri ini, itu hanya soal kesejarahan. Viyasa pendiri Astina lahir di negeri ini. Astina dengan mudah menarik investasi ke negeri lain. Kami, pebisnis tak mengenal nasionalisme dengan begitu baik. Ke mana uang berhembus di situ kami berada,” kata Sengkuni tak kalah berapi-api.

“Hati-hati dengan kata-katamu! Uang memang bisa membeli segalanya, tapi pemerintah tak mungkin ditekuk oleh pengusaha. Aku kecewa dengan Astina, aku berharap pemimpin pengganti Astina sebijak Pandu. Untuk itu Anda tak perlu berlama-lama, Anda sudah tahu bukan pintu keluar,” suara Manikmaya lemah lembut tapi mendesir tajam di hati Sangkuni, yang membuat seluruh tubuhnya ngilu. Sangkuni merasa ingin marah sekaligus merasa dipermalukan luar biasa.

“Baik Pak Presiden, terimakasih atas pertemuan ini. Kami Astina akan berhitung lagi. Selamat malam.

Ruangan kembali hening tapi kali ini serasa lebih ramah. Empat orang yang berada satu meja itu adalah keluarga. Kresna meski bukan sanak saudara ketiga orang itu, namun Manikmaya, telah menganggapnya seperti anak sendiri. Manikmaya memiliki seorang anak bernama Wisnu, yang meninggal dunia di usia remaja. Suatu hari, ketika mengunjungi akademi militer, dia menemukan seorang taruna yang mirip dengan Wisnu, taruna itu Kresna. Parasnya yang tegap, gagah, dengan kulit hitam legam yang menunjukkan sifat perwira mengingatkan dia pada Wisnu. Sejak itu hubungan keduanya menjadi sangat dekat.[1]

Obrolan di meja itu seperti reuni keluarga, namun pelan-pelan bergeser membicangkan Astina.

“Ismaya, Catugora. Kalian mengabdi pada keluarga Astina, juga Kresna sangat akrab dengan anak-anak Pandu, menurut kalian apa yang harus kulakukan dengan Astina?”

“Payah,” sahut Catugora. Wajahnya menegang.

“Mengapa?”

“Sangkuni, Dorna, berinisiatif menyingkirkan mereka, dan rupa-rupanya akan berhasil”.

“Aku harus melakukan sesuatu untuk Astina,” kata Manikmaya kepada tiga tamunya.

-----

Pintu diketuk pelan. Sekretaris Manikmaya yang cantik memberitahu, konferensi pers akan segera dimulai.


Foto : www.acus.org

[1] Dalam cerita pewayangan, Sanghyang Tunggal atau Manikmaya memiliki permaisuri bernama Dewi Umayi. Dari perkawinan keduanya lahirlah Batara Sambo, Batara Brahma, Batara Indra, Batara Bayu, Batara Wisnu, dan Batara kala. Batara Wisnu dalam cerita pewayangan menitis pada diri Kresna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar